Asal Usul Awal Mula Sejarah Pekalongan

Asal Usul Awal Mula Sejarah Pekalongan

Asal Usul Awal Mula Sejarah Pekalongan

Pekalongan - Dari hasil pemanfaat cerita tutur, Kitab Babad, dan data sejarah yang ada, untuk sementara, eksistensi awal mula terbentuknya Kabupaten Pekalongan bisa digambarkan sebagai berikut :

Awal mula terbentuknya Kabupaten Pekalongan, berasal dari sosok yang bernama Ki Ageng Cempaluk dari Kesesi. Ki Ageng Cempaluk memiliki nama lain yaitu Ki Bahu.Dia adalah salah satu sahabat Pangeran Benawa (1587-1588M) - Raja Pajang putra Sultan Hadiwijaya - yang ikut perjalanan Pangeran Benawa berkelana keluar dari Kerajaan Pajang. Dalam pengelanaan tersebut, mereka sampai di Alas Tegalayang Kukulan-Kendal dan membuka pemukiman disana.

Atas jasanya dalam babad alas Tegalayang-Kukulan dan mengembangkan wilayah Kendalsari sampai terbentuk laladan (wilayah tanpa batas yang jelas) Kaliwungu-Kendal bersama Pangeran Benawa dan 3 orang sahabat lainnya, Ki Bahu diangkat sebagai pejabat (Nayaka Praja) Mataram oleh Panembahan Senopati, Raja Mataram pertama (1588-1601M).

Di akhir masa pemerintahannya, Panembahan Senopati, mengangkat Ki Bahu sebagai penguasa Pekalongan dan meningkatkan pangkatnya sebagai Tumenggung dengan gelar Tumenggung Kyai Ngabehi Bahureksa (Sepuh) serta memberi hadiah berupa sebuah tanah perdikan. Sedang wilayah laladan Kaliwunggu diserahkan kepada Ki Juru Mertani untuk membayar gajinya sebagai Patih Mataram. Dan Jaka Bahu putra Ki Bahu meneruskan kedudukan ayahnya di Kaliwungu sebagai Abdi Dalem Magangan.

Ki Bahu merintis pengembangan wilayah di bagian selatan Pekalongan, bertitik tolak dari tanah Perdikan yang berada di sekitar kali layang (perbatasan Pekalongan-Pemalang). Membentuk masyarakat agraris dengan membangun pemukiman dan persawahan. Hal ini sesuai dengan kebijakan Kerajaan Mataram yang beribukota di Pedalaman (Kutho Gede) yang berbasis pertanian dengan masyarakat bercorak agraris.

Setelah Kaliwungu-Kendal berkembang menjadi wilayah Kabupaten, Raja Mataram Ke-2 Prabu Hanyakrawati (1601-1613) mengangkat Jaka Bahu yang bernama asli Kyai Sundana sebagai Bupati Kendal Pertama dengan gelar Tumenggung Kyai Ngabehi Bahureksa (anom) menuruni (nunggak semi) gelar ayahnya Ki Bahu yang berkedudukan di Pekalongan.
Ki Bahu sendiri yang sudah mulai uzur, berikutnya lengser keprabon madeg pinandhita melepaskan gelar jabatannya dan berganti sebuah nama sederhana yaitu KI CEMPALUK. Dalam bahasa lokal Pekalongan, “Cempaluk” adalah sebutan untuk buah asem. Sebagai Ulama Sepuh, yang mumpuni dalam oleh keprajan, keprajuritan, ahli pertanian, dan menguasai ilmu lahir batin, oleh masyarakat dan para pejabat tetap disegani. Oleh karenanya lahir gelar kultural bagi dirinya dengan sebutan Ki Ageng Cempaluk. Dalam kiprahnya sebagai Ulama Sepuh, Ki Ageng Cempaluk masih sering dibutuhkan saran, nasehat dan arahannya oleh para Abdi Dalem Mataram di wilayah Pesisiran Kulon, dan khususnya putranya Jaka Bahu yang sudah mulai menjabat sebagai seorang Bupati ( Tmg. Bahureksa Anom).
Tanah Perdikan ditepi kali layang diberi nama tanah perdikan KESESI. Kesesi dari konon berasal dari kata “Kesisih” yang artinya nyisih/ menyingkir. Nama ini menandai peristiwa Ki Ageng Cempaluk yang menyisih dari keramaian dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Uzlah).

Ki Ageng Cempaluk selanjutnya menjalankan perannya sebagai ulama sepuh bersama para santrinya dan para Abdi Dalem Mataram meneruskan pengembangan wilayah Pekalongan. Seperti membuka wilayah Alas Kendogo di sekitar Sumur Jomblang Bogo yang dilakukan oleh Santri Ki Ageng Cempaluk yang juga Abdi Dalem Mataram bernama Raden Tirtokusuma. Kelak ketika Alas Kendogo sudah terbuka menjadi pemukiman dan persawahan terbentuk sebagai wilayah diberi nama Bojong. Sedang Raden Tirtokusuma dikenal sebagai Mbah Bojong.

Selain itu, Ki Ageng Cempaluk sebagai penasehat pesisiran Mataram, membantu putranya Tumenggung Bahureksa (Anom)/ Jaka Bahu, dalam proses pembentukan wilayah baru di sebelah barat Kabupaten Kendal, melalui Babad Alas Roban sampai terbentuk Kadipaten Batang
Dimasa Sultan Agung penataan wilayah Mataram sudah mulai rapi. Wilayah pesisir dibagi dua yaitu Pesisiran Kilen dan Pesisiran wetan dengan batas sekitar Demak. Atas jasanya membentuk wilayah Batang dari Babad Alas Roban, Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M)) mengangkat Tumenggung Bahureksa (Anom) sebagai Bupati Wedana Pesisiran Kilen, yang menguasai wilayah dari Jepara, Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, sampai Brebes.

Ketika Jaka Bahu sudah diangkat sebagai Bupati Wedana (Gubernur) Pesisiran Kilen, Pekalongan mulai dikembangkan lebih luas lagi dengan babat alas Gambiran. Selama proses babad Alas Gambiran ini, Ki Ageng Cempaluk menjadi penasehat utama Mataram di wilayah Pesisir Kilen. Dengan bekal pengalaman merasakan asem garam babad alas dan merintis.

pembentukan wilayah baru, bukan hal yang sulit bagi Ki Ageng Cempaluk untuk memberi arahan lahir maupun batin kepada Putranya Jaka Bahu.
Pengembangan wilayah Pekalongan pada masa Sultan Agung ini lebih banyak dilakukan di bagian Utara di daerah dekat pantai. Hal ini sejalan dengan kebijakan Mataram pada saat itu dalam upaya menaklukkan Kadipaten Surabaya dengan membentuk Armada Laut Mataram untuk menguasai Laut Utara Jawa. Dimana pada saat itu Laut Utara Jawa juga sudah mulai menjadi ajang perebutan para pelaut Eropa. Sehingga dengan berjalannya waktu mulai terbentuklah pusat pemerintahan dengan masyarakat maritim di wilayah utara Pekalongan.

Tahun 1622 M, Kabupaten Pekalongan Terbentuk. Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645 M) mengangkat Tumenggung Mandurorejo sebagai Bupati Pertama Pekalongan. Tumenggung Mandurorejo berkedudukan di ibukota kerajaan Mataram, menjabat sebagai Bupati Wedana Gedong Tengen. Sehingga kedudukannya sebagai Bupati Pekalongan hanya sebagai penguasa vasal saja.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, sistem birokrasi dan pembagian wilayah Mataram sudah mulai rapi. Untuk pengangkatan para pejabat, Sultan Agung biasaya menggunakan tradisi grebeg mulud yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal bersamaan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam acara Grebek Mulud ini, seluruh pejabat wilayah bawahan Mataram wajib hadir tidak boleh diwakilkan, untuk mengikuti acara pisowanan. Pada saat pisowanan inilah biasanya juga dilangsungkan acara pengangkatan para Pejabat baru.
Dengan dasar tersebut, dimungkinkan bahwa pengangkatan Tumenggung Mandurareja sebagai Bupati Pertama Pekalongan juga dilakukan pada saat acara Grebeg Mulud 12 Robiul Awal 1031 Hijriah , ini yang bertepatan dengan tanggal 25 Januari 1622 M.

Pada saat yang bersamaan, Sultan Agung juga mengangkat Tumenggung Bahureksa (Anom) sebagai Panglima Armada Laut Mataram yang menguasai wilayah Laut di sepanjang pantai utara Jawa yang sudah dikuasai Mataram.
Selanjutnya pada tanggal 6 Mei 1622, Armada Laut Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Bahureksa (Anom) berhasil menundukkan kerajaan Sukadana di Kalimatan. Sebuah Kerajaan yang menguasai Laut Utara Jawa bagian Timur ,sekutu Kadipaten Surabaya, yang saat itu masih menjadi musuh utama Mataram. Dari keberhasilan misinya ini, Tumenggung Bahureksa (anom) menerima hadiah dari Sultan Agung seorang “Garwa Triman”.

Dari kenyataan tersebut maka wajar bila berikutnya, terdapat catatan Belanda (Jonge, Opkomst, Jil V, hlm 30) yang menyebutkan bahwa Tumenggung Bahureksa (anom) pernah berkuasa di Pekalongan dengan corak yang bersifat Militer. Sedang karya simbolik Kapujanggan pesisiran dalam cerita Jaka Bahu Babad Alas Gambiran, hal ini diungkapkan dengan kisah Tumenggung Bahureksa menikah dengan Dewi Lanjar Ratu Laut Utara Jawa. Sebuah persepsi yang unik dalam memahami kedudukan Tumenggung Bahureksa (Anom) Bupati wedana Pesisiran Kilen dan Panglima Armada Laut Mataram di Pekalongan.

Loading...

Terimakasih Anda telah membaca tulisan / artikel di atas tentang :
Judul: Asal Usul Awal Mula Sejarah Pekalongan
Rating: 100% based on 98 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh AriefTewe
Semoga informasi Seputar Asal Usul Awal Mula Sejarah Pekalongan bisa memberikan manfaat bagi Anda. Terima kasih Untuk Komentar Anda dan yang Share Artikel Ini
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Advertiser